Menyesal

Sore ini setelah sekian lama akhirnya air mata Saya keluar membersihkan mata Saya melalui teguran halus suami atas sikap Saya yang kurang pantas. Walau disampaikan dengan sangat halus dan sambil memeluk mungkin khawatir pada Saya kalau disampaikan, tapi sebagai imam yang baik , Ia harus menyampaikannya. Ada canda gurau yang tanpa Saya sadari bisa melukai hati Suami, membuatnya malu, apalagi jika dilontarkan di depan teman-teman Kami. Juga sikap Saya yang cuek saja melihat Suami batuk-batuk tadi. Saya akui, agak susah membedakan bersikap sebagai istri atau agak jaim di depan teman-teman Kami sendiri. Harusnya Saya bersikap biasa saja. Wajar-wajar saja kalau Saya memperhatikan Suami, membela, menghormati, dan harusnya Saya ingat bahwa ia adalah pakaian Saya yang harus Saya pastikan bagus wujud aslinya maupun penampilannya. Ya, Saya menangis tanda Saya menyesal. Saya begitu menyesal, padahal Ia tak pernah menjadikan Saya candaannya maupun menjelek-jelekkan Saya walaupun sebuah kenyataan. Semoga menjadi pembelajaran berharga bagi Saya dan tidak akan terulang lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s