The Lucky Girl

“Who is the lucky girl?” tanya seorang teman Suami ke Suami saat Suami mengabari perihal undangan pernikahan Kami beberapa tahun lalu. “No, I am the lucky one.” Sanggah Suami Saya yang disambut pujian atau doa bahwa ia akan menjadi Suami yang baik kelak.

“Yes, I am the lucky girl.” Dalam hati Saya bergumam, setiap kali dihadapkan pada hal-hal yang membuat Saya tak dapat mengelak bahwa Sayalah yang beruntung. Bukan karena Saya begitu tergila-gila pada Suami Saya atau apapun kebaikan yang melekat padanya, tapi karena banyak hal yang membuat wawasan dan keterampilan Saya semakin berkembang, sehingga membuat Saya merasa semakin berdaya. 

Pernah dalam suatu obrolan Saya bercerita bahwa dari mama mertua Saya diajari betatapun sibuknya Saya kelak, urusan perut keluarga tetap terjaga. Dilengkapi dengan ajaran Mama Saya bahwa rumah yang rapih dan sehat, merupakan sumber kenyamanan dan ketenteraman yang akan berdampak signifikan pada kehidupan penghuninya. Kombinasi yang perfect bukan? Maka Suami Saya berujar, “wah enak ya, diborong ilmunya”. Ya betul, Saya beruntung karena pernikahan memberi Saya ladang ilmu yang lebih luas. Hari ini pun Saya coba terapkan keduanya, belajar masak rendang ayam untuk dibawa besok ke kampus, dan beberes rumah supaya nyaman menyambut weekday kembali. Selamat menyambut hari Senin:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s