Semalam di Kota Malang

Jumat sore saat Saya masih di residensi, Suami menelepon dari Surabaya setelah tiga hari Ia mengikuti kegiatan di sana. Ia meminta Saya menyusul berangkat ke Surabaya, sore itu juga. Katanya, mau ajak Saya jalan-jalan di Jawa Timur karena memang Saya belum pernah ke sana kecuali transit di bandara Juanda ketika menuju Makassar beberapa waktu lalu. Rupanya Suami ingin ditemani singgah ke Kota Malang untuk bersilaturahim ke teman Prajabnya yang memang banyak berasal atau bekerja di Universitas Brawijaya Malang. Saya pun menyetujui namun dengan jadwal keberangkatan esok harinya agar sedikit leluasa untuk packing. Penerbangan hari itu adalah penerbangan perdana Saya seorang diri. Bukan bermaksud jadi wanita manja yang harus selalu ditemani sih, tapi kebetulan biasanya memang selalu ada yang menemani setiap bepergian. Alhamdulillah lancar, Saya pun dijemput Suami di bandara.

Dari Surabaya, Kami berangkat menuju Kota Batu sebelum Ke Malang dan sedikit berekreasi di sana. Di Museum angkut, Suami dan temannya saling memperkenalkan keluarga masing-masing. Ya, Kami janjian bertemu di tempat wisata tersebut karena kebetulan mereka sedang membawa anaknya jalan-jalan di sana. Sebenarnya ada beberapa teman Prajab Suami di Kota ini, dan salah seorang di antaranya tadinya Saya harapkan untuk bisa bertemu juga. Bagi Saya, menambah teman atau saudara itu sangat menyenangkan. Apalagi kalau bisa sedikit berbincang-bincang bertatap muka sehingga minim salah paham seperti yang sering terjadi kalau hanya berkirim pesan via teks atau suara.

Namun Sayang, sepertinya yang lain sedang sibuk atau mungkin ada jadwal jaga (mereka rata-rata dosen dan juga dokter) sehingga belum bisa bertemu dengan Kami. Bahkan sampai keeseokan harinya setelah menginap semalam di Kota Malang, Kami isi dengan berjalan-jalan ke alun-alun dan membeli oleh-oleh. Oya, strudel Malang enak lho. Baksonya juga, hehe. Yang pasti Saya bahagia menerima setiap ajakan Suami untuk bepergian mendampinginya, apalagi untuk diperkenalkan kepada teman-teman atau keluarganya. Saya tidak peduli betapa banyak kekurangan pada diri Saya dan apa pandangan orang lain terhadap Saya, diijinkan menjadi apa adanya diri Saya adalah hal yang membuat Saya merasa istimewa sebagai istri. Bye Malang, see You next time. Thx My Yellow.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s