Mencari Jati Diri

Sudah dua malam Mama Saya menginap di Bandung. Rencananya besok sudah harus pulang. Kebetulan ada keperluan di Bandung jadi menginap di Cicarita.Belakangan Beliau sangat berhati-hati khawatir mengganggu Saya kalau menginap di Bandung. Padahal Saya sama sekali tidak merasa terganggu, malah hepi. Dan sepanjang Beliau di sini, Saya jarang sekali menyentuh laptop. Sehingga muncul pertanyaan, kapan bisa selesai S3nya? Jawab Saya, Saya bekerja di residensi. Di rumah atau di kantor tidak bisa fokus. Paling hanya baca-baca saja. Tapi mama tenang saja ya, terus doakan.

Seumur hidup Saya, Saya hanya melalui jenjang-jenjang studi Saya begitu saja tanpa banyak prestasi. Ya semuanya mengalir saja, yang penting terlalui. Entahlah, bukan tidak semangat, tapi sedang mencari jati diri, ujar Saya. Mama Saya pun mengulang kalimat tersebut dengan notasi tanya, mencari jati diri? 

Ya, Saya tidak terlalu suka berada di puncak di mana semua orang memperhatikan Saya, atau ingin mengungguli Saya. Cucup sesekali saja Saya keluarkan semua kemampuan Saya, saat Saya tau untuk apa Saya melakukan itu  dengan sebaik-baiknya. Itu yang Saya sebut jati diri, entah benar atau tidak ya penggunaan istilah ini, hehe. 

Setidaknya Saya pernah mendapatkan hasil maksimal ketika upaya Saya pun maksimal, diantaranya waktu psikotest di SMA dan saat ujian kualifikasi (proposal) S3. Hasil pikotest Saya masuk jajaran nilai tertinggi di sekolah Saya, di mana selain Saya, semua peraih nilai tersebut adalah para juara olimpiade. Tak heran, Saya dipanggil guru BP dan diberi pernyataan bahwa Saya masih malas mengasah kemampuan, harusnya Saya bisa lebih berprestasi. Saat itu mungkin wajah Saya tampak konyol. Sedangkan ketika ujian kualifikasi, di luar ruangan Saya dijabat tangan oleh profesor penguji karena topik yang Saya ambil menarik dan saat itu Saya adalah yang pertama kali lulus ujian kualifikasi di angkatan Saya. Kesamaan dari dua peristiwa di atas adalah, Saya menyenangi apa yang Saya kerjakan. Saya tidak perlu berusaha terlalu keras, Saya begitu menikmati prosesnya, tidak tertekan, tidak peduli bagaimana hasilnya nanti, dan tidak ada yang mengharapkan Saya  begini dan begitu. 

Bagaimana dengan keadaan saat ini? Bertolak belakang. Saya tertekan kalau terus menerus belajar dengan berbagai ekspektasi dan deadline. Makanya Saya menyebutkan bahwa sedang mencari jati diri. Intinya adalah menetralisir sudut pandang Saya, bahwa Saya mengerjakan semua ini bukan tuntutan melainkan sebuah kesenangan. Begitu ketemu, Saya yakin bisa melampaui ini semua dengan baik. Bagaimana caranya agar segera bertemu jati diri? Entahlah. Tetap berusaha. Enjoy this moment.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s