Ijinkan Saya Menangis

Sudah cukup lama Saya tidak menangis dalam makna yang sebenarnya. Kalau sekedar mengeluarkan air mata karena kesal, haru, atau sedih  ya lumayan sering, mungkin kantung air mata saya perlu berproduksi🙂. Namun kali ini, ijinkan Saya menangis. Mengapa Saya perlu minta ijin? Rasanya tidak pantas Saya mengeluh atas apa yang Saya alami. Sungguh tidak sebanding dengan berbagai nikmat lainnya yang sudah Saya peroleh. Tapi kali ini Saya merasa ada titik yang hampir sama dengan dua setengah tahun yang lalu, yang kemudian tertumpah di tempat yang sangat mustajab di rumah Allah. Rasa tidak berdaya sekaligus yakin ada rencana besar dari Allah di balik semua ini.

Kemarin, sesuai jadwal Saya melakukan test darah kembali setelah test terakhir dilakukan dua bulan yang lalu. Menurut dokter, titer tokso akan menurun sampai akhirnya hilang dalam waktu beberapa bulan sampai tahunan. Awal Maret hasil lab menunjukkan bahwa ada penurunan dari IGG 262 ke 183 dan IGM 1,44 ke 1,3. Masih jauh dari yang diharapkan tapi setidaknya hasilnya sudah membaik.

Kemarin Saya kembali melakukan cek darah. Hasilnya sungguh membuat kekhawatiran Saya semakin bertambah-tambah. IGG 213 dan IGM 1,4. Memang tidak setinggi yang awal, tapi ada apa dengan tubuh Saya? Hiks, Saya tidak ingin ketergantungan obat lagi. Apakah Saya harus pasrah atau bagaimana? Gamang. Kondisi ini cukup mengganggu pikiran Saya yang sedang butuh fokus menghadapi pekan ujian S3. Saya tidak ingin berlama-lama dalam keresahan ini.

Lalu, mengapa Saya perlu menangis? Menuruti rasa hati ingin sekali menumpahkan kegundahan hati pada orangtua dan Suami. Tapi sekarang Saya perlu berpikir panjang jika ingin curhat. Saya tidak ingin mengganggu konsentrasi Suami yang juga sedang mengahadapi pekan ujian dan pekerjaan yang bertubi-tubi, juga tidak ingin membebani pikiran orangtua karena dapat dipastikan orangtua Saya turut merasa resah dengan kondisi Saya. Sesekali Saya memang menangis di depan Suami, tapi itu hanya puncak gunung es dari perasaan yang Saya alami. Begitulan wanita, apa-apa dirasa, dipikirkan, bisa merembet ke mana-mana padahal masalahnya tak seberat yang dipikirkan. Orangtua pun sebenarnya akan membathin jika ada anaknya ada dalam kebingungan. Tapi biar Saya simpan saja.

Allah, kembali ke Allah. Apalagi kalau bukan dengan bermunajat kepada Allah. Let  We see, setelah ini, Allah akan beri sign apa pada Saya. Yang pasti Saya harus ikhlas menjalani setiap ujian dari-Nya dan tetap berkihtiar. Semoga Engkau ridho padaku Ya Allah.. limpahkan rahmat-Mu pada hamba yang tak berdaya ini. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s