Sempurna=Lengkap?

Manusiawi apabila selalu ada rasa kurang dalam hidup kita, apalagi jika sudah membandingkan dengan hidup orang lain. Lebih dahsyat lagi apabila orang lain ini adalah mereka yang kita kenal, dan menurut kita hidupnya ‘terlihat’ sempurna. Astagfirullahaladzim. Semoga Saya dijauhkan dari penyakit hati seperti ini.

Dalam posting kali ini Saya ingin berfokus pada kalimat pertama saja, tentang rasa kurang sempurna yang bersumber pada rasa kurang lengkap. Misal, karena hari sudah memasuki musim hujan, dan Kami baru memiliki motor sebagai kendaraan sehingga akan lebih lengkap jika memiliki mobil yang dapat mengantar saat panas maupun hujan. Tapi Saya tidak yakin rasa sempurna itu akan bertahan lama. Saya akan kembali merasa ada yang kurang sehingga hidup Saya lagi-lagi terasa kurang sempurna.

Sama halnya ketika Saya terdoktrin pikiran bahwa kehadiran buah hati akan membuat keluarga kecil kita menjadi lengkap, sehingga sempurnalah hidup kita. Tak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut menjadi salah satu tujuan besar dalam sebuah pernikahan. Nyatanya tak semudah itu Allah mengabullan niat ini di rumah tangga Kami. Infeksi tokso membuat harapan Saya semakin terulur. Berdalih Saya akan fokus ke studi pun sempat Saya jalani walau ujung-ujungnya, ketakutan tetap menghantui pikiran Saya. Minggu ini saja waktu Saya banyak habis untuk browsing mencari ilmu tentang parasit ini, bagaimana pengobatannya, berapa lama? Tak dinyana Saya terkuasai pikiran sendiri padahal Allah Maha Segalanya. Cukup ikhtiar dan berdoa, kemudia lanjutkan segala amanah Saya dengan baik.

Seperti diberi petunjuk untuk meluruskan kembali jalan pikiran Saya, Saya tidak sengaja menemukan foto teman SMA dengan anaknya yang sudah usia TK. Teman Saya itu sekarang sudah menjelma menjadi wanita dewasa yang sangat cantik, terlihat berbeda dan justru semakin cantik setelah menjadi Ibu. Sedang asyik menulusuri foto-fotonya (kebanyakan foto berdua dengan anaknya dan foto dengan suaminya saat sedang hamil) karena sudah lama tidak melihatnya sampai pada suatu posting yang mengabarkan bahwa ternyata Suaminya telah meninggal dunia beberapa bulan setelah ia melahirkan. Innalillahi, Saya pun entah mengapa sangat terbawa perasaan sedih mengetahuinya. Ini sudah kedua kalinya Saya mendapat kabar demikian. Teman smp di Indramayu pun suaminya meninggal karena sakit saat bayinya masih berusia beberapa bulan. Banyak juga yang sudah berpisah dari suaminya dan harus membesarkan anaknya sebagai single parent di usia yang sangat muda.

Ya Allah, maafkan hamba yang tidak pernah bersyukur. Ternyata lengkap itu tidak selalu sempurna, hanya masalah sudut pandang dan constraint yang kita tentukan sendiri. Saya pun mulai membalik cara berpikir Saya, bahwa hidup Saya sudah sangat sempurna, sehingga Saya harus bisa berbuat banyak tidak lagi melulu untuk diri Saya melainkan untuk sebanyak-banyaknya manfaat untuk sekitar. Dengan demikian Saya akan merasa lengkap. Kalaupun dibuat semakin lengkap akan menambah rasa syukur, bukan surut dan mengharap yang lebih besar lagi. Rupanya demikian hidup. Pasang surut iman harus dikendalikan agar selalu terpaut pada Sang Pencipta, Allah Yaa Rabb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s