2Persen & Quote Buya Hamka

Lagi-lagi Saya menggunakan judul 2Persen. Tulisan sebelumnya dengan judul yang sama dapat dilihat di sini. Memang judul ini selalu terlihat memukau bagi Saya, mungkin juga bagi kekasih Saya (baca: Suami, kata kekasih terpengaruh romantisme Hayati-Zainuddin :D) sehingga dijadikannya nama blognya, tentang kebetulan menurut kita namun terencana bagi Allah.

Senin lalu Saya mengunjungi rekan kantor yang baru saja melahirkan anak ketiganya. Dalam percakapan, Beliau menyebutkan bahwa memang kehamilan kali ini direncanakan dengan melepas KB spiral yang selama 7 tahun terpasang. Dan Saya pun teringat cerita Ibu Saya, bahwa Saya ada dalam keadaan terpasang spiral di rahim Ibu Saya. Rekan Saya pun mengatakan, bahwa Saya adalah 1% dari kemungkinan kehamilan pada Ibu Saya waktu itu. Ya, 1-2% persen adalah bagian yang diberikan pada hal apapun yang menjadi rencana manusia untuk tetap memberi kemungkinan ‘Jika memang sudah kehendak-Nya, Kun Fayakun walau di luar rencana manusia’.

2Persen itu selalu mengikuti perjalanan hidup Saya berikutnya. Kisah Saya dan Suami mungkin juga adalah 2Persen yang berbeda dari kebanyakan kisah tragis percintaan Hayati-Zainuddin dalam karya sastra tenggelamnya kapal Van Der Wijck. Karya ini membuka mata Saya bahwa bagaimana pun adat tetap harus dilestarikan, namun memerlukan ketinggian ilmu untuk dapat menerimanya, mengalaminya, dan kemudian bahagia karenanya. Segala sesuatunya dapat dirundingkan, bukan dengan berkeras hati karena akan ada yang tersakiti. Seperti salah satu quote dari penulisnya, Buya Hamka, berikut:

“Kata-kata yang lemah dan beradab dapat melembutkan hati dan manusia yang keras” (Hamka)

Jika kala itu banyak yang meragukan kisah Kami akan sampai pelaminan karena berbeda suku, maka dengan kehendak Allah jualah Kami akhirnya bisa memulai episode baru sebagai Suami Istri. Tanpa Saya sadari, Saya mulai mencintai perbedaan adat istiadat ini, dan melebur jauh ke dalamnya. Bahkan adat lain pun dengan antusias bisa Saya nikmati ketika berkunjung ke tempat-tempat yang baru Saya kunjungi.

“Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Jika ia jatuh pada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai terpuji.” (Hamka)

Gili Trawangan, November 2015

Gili Trawangan, November 2015

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s