Diskusi dengan Papa Mertua

Beruntunglah Saya memiliki mertua yang memberi Saya sangat banyak masukan dan pengalaman hidup untuk bekal Saya dan Suami mengarungi hidup, khususnya papa mertua Saya karena dengan Beliaulah Saya banyak berdiskusi. FYI papa mertua sudah pensiun, sehingga punya banyak waktu untuk Saya ajak ngobrol. Pada tulisan ini Saya ingin menyimpulkan beberapa hal menarik dari diskusi Kami semalam sembari menunggu Suami mengantar Mama mertua berbelanja.

  1. Jika suatu hari nanti Saya dihadapkan pada kemungkaran, maka hendaknya Saya mampu bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan. Sesuai dengan hadis, cegahlah kemungkaran dengan tanganmu (power, kekuasaan), atau jika tidak mampu maka lakukan dengan lisanmu (nasehat, saran), atau hatimu. Hadis ini mengingatkan kita untuk menjauh dari perbuatan mungkar walau dengan selemah-lemahnya iman, yaitu dengan membenci kemungkaran dalam hati, bukan jadi pengikut atau tim sukses kemungkaran. Lebih baik keluar dari lingkaran hitam jika pimpinan mengajak pada kemungkaran.
  2. Kebijaksanaan juga memiliki makna bahwa segala tindakan kita harus dipikirkan masak-masak alias berstrategi. Pernah dengar anjuran mendidik anak dengan menghindari kata JANGAN? Selama beberapa periode anjuran ini seolah mencerahkan pikiran khalayak masyarakat khususnya para orangtua yang memiliki anak di usia golden age.  Contoh, ‘Jangan lari-lari di depan orangtua, tidak sopan’ diganti dengan ‘Jalan perlahan di depan orangtua ya’. Sampai pada suatu hari Saya menemukan artikel yang membantahnya dengan dengan sudut pandang Islam. Di Islam, kata jangan itu ada, yaitu La. Kata ini bersifat tegas, membedakan mana yang boleh dan tidak boleh dengan efisien. Mungkin ada benarnya anjuran sebelumnya jika ditinjau secara psikologis, namun artikel yang beredar seolah menutup mata kita dengan segala kebaikannya terhadap anjuran agama kita. Jangan mentah-mentah menerima ilmu baru, yang paling utama kita serap adalah jika berlandaskan Al Quran dan hadis. Pertanyaan Saya, mengapa artikel kedua ini baru muncul belakangan? Menurut Saya penulis sangat bijak mencari waktu meluruskan kembali pandangan masyarakat setelah pikiran masyarakat sudah cukup netral untuk diberi ilmu dari sisi yang lain. Bayangkan, jika pada saat bersamaan teori berbasis psikologi manusia tersebut dibantah dari sudut pandang Islam, bisa jadi orang yang terlanjur terpikat pada paham pertama akan ‘tidak sadar’ menolak kebenaran Islam. Begitupun dengan hal lain, keras dibalas keras mengakibatkan salah satu akan patah atau keduanya patah. Jadilah yang fleksibel untuk menghasilkan kebaikan.
  3. Beralih ke topik tentang plagiarisme. Belakangan ini hukum tentang plagiarisme sudah mulai ditegakkan di dunia pendidikan. Jenis plagiarisme mulai dari plagiarisme ringan sampai berat, dibahas dan disosialisasikan di berbagai institusi. Di satu sisi, publikasi di masa mendatang akan semakin baik karena orisinil dari pemikiran para penulis, namun di sisi lain sebagian penulis menjadi mandul karya karena terlalu berhati-hati, takut plagiat. Sepertinya belum ada pembekalan khusus mengenai cara penulisan karya ilmiah untuk menghindari plagiarisme, contoh: bagaimana memparafrase tulisan seperti halnya tips trik di toefl. Topik ini cocok untuk dijadikan buku, selain untuk membekali diri sendiri juga bermanfaat untuk masyarakat luas. Semoga kelak dapat Saya wujudkan. Aamiin.

Tiga hal di atas menjadi highlight dari diskusi tadi malam. Bumbu ceritanya sih banyak, namun tiga hal di atas sengaja Saya tulis agar dapat Saya baca dan ingat kembali di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s