Kontemplasi di Penghujung ‘Liburan’

Lusa, merupakan awal semester baru. Artinya Saya akan kembali disibukkan dengan jadwal mengajar dan persiapannya, juga kembali pada aktivitas riset Saya. Persis di akhir minggu ‘liburan panjang’ ini (dosen tetap masuk kantor namun jika tidak mengajar SP maka tidak ada jadwal mengajar), Saya mendapatkan sangat cukup istirahat. Waktu yang sangat tepat untuk berkontemplasi, semoga saja berhasil menjadikan diri Saya lebih baik lagi.

Sedianya Saya ingin menceritakan hal ini Oktober nanti (tiga bulan kemudian), seperti yang telah Saya sebut pada tulisan sebelumnya. Namun, Allah berkehendak lain sehingga episode ini sudah dapat Saya terbitkan yang Insyaallah menjadi pengalaman berharga bagi Saya.

Sabtu, 8 Agustus 2015 merupakan hari yang mendebarkan bagi Saya. Separuh tidak percaya, testpack Saya menunjukkan dua garis yang artinya Saya positif hamil. Berkali-kali Saya menggunakan alat ini namun hanya mampu menunjukkan satu garis, maka Saya pun takjub melihat ternyata urin yang penampakannya sama saja bisa menghasilkan garis yang berbeda. Untuk lebih yakin, Saya dan suami pun membeli dua buah testpack lagi dengan harga bervariasi. Hasilnya sama. Sesuai saran mama mertua, Saya pun mendatangi bidan untuk lebih jelasnya. Alhamdulillah, Saya dinyatakan hamil. Tak lupa bidan berpesan kepada suami agar Saya tidak kecapekan.

Karena tidak mengalami gejala ibu hamil pada umumnya seperti mual dan muntah, Saya dapat tetap bebas beraktivitas seperti biasanya tanpa gangguan apapun. Tentu Saya lebih berhati-hati dari sebelumnya, apalagi jika suhu tubuh terasa lebih meningkat Saya pun akan otomatis beristirahat. Sampai pada waktu yang ditunggu-tunggu, usg untuk melihat ke dalam rahim Saya.. seminggu setelah kunjungan ke bidan. Betapa senangnya melihat spot kecil di hasil usg, yang menandakan adanya kantung kehamilan yang merupakan masa perkembangan awal kehamilan. Usianya, 4W4D, agak meleset dari hpht Saya 9 Juli 2015, namun masih dalam batas normal kata dokter kandungan yang prakteknya di bidan dekat rumah Saya. Oya, usia dokter juga masih sangat muda sepertinya hampir sebaya dengan Saya dan suami sehingga konsultasi menjadi lebih nyaman.

Semuanya berjalan seperti biasa, Saya masih ke UPI, masih ke ITB, masih upacara, masih memenuhi undangan pernikahan, masih memasak dan beberes rumah (walaupun sering diomelin suami karena tidak boleh terlalu lelah). Senin, 24 Agustus 2015 Saya mendapati flek di pakaian dalam Saya ketika berada di kampus. Pertanda kurang baik, Saya pun segera pulang untuk beristirahat dan mempercepat jadwal kontrol ke dokter kandungan. Kali ini Saya pilih RSIA Hermina. Alhamdulillah kantung kehamilan masih ada dan sudah membesar 5W3D, namun agak lambat dari perkiraan. Kata dokter yang ternyata adalah profesor, hormon yang masih sedikit di usia kehamilan di bawah empat bulan kadang menyebabkan munculnya flek sehingga masih dalam kategori normal. Saya pun kembali tenang.

Esoknya Saya mulai dikagetkan dengan keluarnya gumpalan darah dan jaringan dari jalur lahir. Panik, menangis, tapi juga berusaha tetap berpikiran positif. Rabu, 26 Agustus 2016 atas saran mama Saya yang paham kondisi psikologis Saya pasti tidak tenang, Saya kembali ke dokter dekat rumah untuk kembali usg. Hasilnya kantung masih ada namun ancaman keguguran semakin tinggi dengan berubahnya flek menjadi gumpalan-gumpalan darah. Dosis penguat kandungan ditambah, Saya pun kembali pulang. Esoknya Saya mengungsi ke rumah orangtua dan bedrest dengan perawatan langsung dari mama Saya. Padahal istirahat dan asupan gizi sudah sangat cukup, namun pendarahan Saya semakin menjadi. Perbanyak dzikir dan doa memohon yang terbaik dari Allah.

Jumat, 28 Agustus 2015 pukul 22.30 Saya mulai merasakan ada yang ganjil di perut Saya. Berusaha tetap tenang dan mencoba tidur, Saya pun menyerah pada pukul 00.30 malam dan dibawa ke RS. Setelah rasa melilit yang luar biasa, Saya merasakan ada sesuatu yang kembali keluar dari jalur lahir. Kali ini lebih banyak. Sesampainya di RS, hasil observasi menyatakan bahwa Saya keguguran. Usg berikutnya adalah untuk menentukan apakah perlu kuretase atau tidak. Dikarenakan ada jaringan yang masih tertinggal, maka kuretase akan dijadwalkan pada esok harinya. Sungguh Allah Maha Berkehendak. Jangankan yang masih berupa kantung dan belum bernyawa, yang sudah bernyawa dan terlahir pun tetap titipan Allah. Kapanpun bisa diambil-Nya kembali.

Pengalaman selama 20 hari ini sungguh luar biasa bagi Saya. Banyak pelajaran yang dapat Saya petik untuk kemudian hari. Salah satu pelajarannya adalah siapapun dokternya, ketika ada masalah di kandungan umumnya obat yang diberikan tak jauh dari penguat kandungan. Kondisi psikis jauh lebih penting untuk dijaga. Maka temukanlah dokter atau bidan yang nyaman dan cocok untuk psikis kita. Dan jangan lupa, ada yang Maha Berkuasa melebihi dokter atau apapun di dunia Allah. Berpasrah pada Allah adalah sebaik-baiknya penenang jiwa.

Juga nikmat dan hikmah yang sangat Saya Syukuri. Mungkin Allah sedang menyemangati Saya untuk segera menyelesaikan studi Saya. Agar kelak ketika Dia kembali menitipkan amanah di rahim Saya, Saya dapat dengan baik dan fokus menjaga kehamilan Saya. Pengalaman singkat ini menjadi perjalanan rohani yang seolah dirancang di periode yang sangat pas. Masa berkontemplasi yang sangat Saya perlukan untuk mempertebal keimanan Saya dan menajamkan semangat Saya mengukir hari-hari ke depan yang juga amanah Allah untuk Saya. Semoga Allah mengampuni segala dosa Saya dan menjadikan Saya lebih baik lagi. Aamiin.

image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s