Mudik ke Kampung Halaman

“Ini baru kampung halaman yang sebenarnya”, ujar suami Saya ketika pesawat yang Kami tumpangi mendarat dengan selamat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. FYI, di tempat suami Saya yang berdarah minang, Saya diperkenalkan sebagai orang Palembang, menurut pada garis ibu yang memang asli Palembang. Sedangkan di pihak Saya, Saya adalah orang Sunda karena ayah Saya asli Majalengka. Apapun itu, bagi Saya adalah suatu keuntungan karena memiliki dua kampung halaman.

Tahun ini giliran kami berlebaran di kampung halaman Saya. Kebetulan juga tahun ini adalah giliran orangtua Saya berlebaran di keluarga besar ibu Saya. Maka secara otomatis Kami mengikuti orangtua mudik ke Palembang. Ada apa di Palembang? Mungkin Saya bukan guide yang baik untuk menceritakan berbagai hal tentang kota ini. Tapi banyak narasumber tempat kami bertanya yang siap menunjukkan eksotisme kota ini di samping panas dan macetnya ibukota Sumatra Selatan ini. Salah satu yang menarik bagi Saya adalah view jembatan ampera di atas sungai musi pada malam hari.

image

image

image

Bagaimana dengan makanannya? Selain aneka masakan Padang yang super maknyus, kota Palembang juga menawarkan berbagai wisata kuliner yang didominasi berbahan dasar ikan. Selain pempek dan tekwan yang sudah sangat dikenal suami Saya dari ibu mertuanya (Mama Saya), ada juga burgo dan laksan yang bersantan. Semuanya enak… belum lagi kerupuk kemplangnya (yang ini suami Saya belum mencobanya karena baru dua hari di sini). Tapi yang paling surprise buat Saya adalah es kacang merah di tempat makan bernama ‘Vico’. Sebelumnya Saya pernah memesan menu ini di tempat lain tapi belum pernah seenak ini. Mengapa Saya sebut nama tempatnya? Karena menurut om Saya, ada seorang pelayan setia di rumah makan ini yang spesialis membuat es kacang merah. Bisa jadi rasanya akan berbeda jika dibuat oleh orang lain. Yang pasti, rasa maknyusnya pollll banget. Perlu dicoba!

image

Menu-menu yang spesial mengobati kegerahan kami di kota ini. Di tempat nyai (nenek) Saya, kami diberi kamar tinggal di lantai dua. Agak gerah memang, walau sudah dibantu kipas angin. Kalau mau ber-AC ya ke hotel saja, tapi akan hilang esensinya. Bagian kamar dan setelahnya merupakan perluasan rumah asli ke atas (rumah asli yang dari kayu diangkat) dan ke samping (sudah berdinding bata. Hal ini baru Saya ketahui setelah suami Saya yang bertanya kepada orang rumah. Hehe.. kemano bae?

image

Alhamdulillah perjalanan kali ini terasa begitu menyenangkan dan nikmat. Mungkin karena didampingi suami yang berarti ini adalah perjalanan kami ke tempat-tempat di Indonesia untuk ke sekian kalinya berdua karena belum ada yang dimomong. Honey moon mode.. hehe.

image

image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s