Kontribusi

Kontribusi, kata ini sangat favorit di kalangan para peneliti khususnya kami mahasiswa S3. Bagaimana tidak, promotor dan co-promotor serta para penguji rajin menggaungkan kata keramat ini agar kami bisa menemukannya di riset kami. Namun kali ini Saya mendengarnya bukan dalam suasana akademis, melainkan dari suami Saya tercinta. Ada apakah gerangan?

Dalam sebuah percakapan yang lumayan menguras emosi kami berdiskusi tentang suatu kejadian yang telah berlalu yang tiba-tiba mengusik pikiran Saya. Saya hanya akan berfokus pada hikmah yang Saya ambil. Ini bukan tentang salah satu di antara kami, namun tentang saran suami Saya kepada seseorang yang Saya akui sangat pintar dan berprestasi. Suami Saya bilang, saat ini kita tidak lagi mengejar untuk jadi peringkat satu dan lainnya untuk berprestasi.. melainkan dengan berkontribusi sebanyak-banyaknya untuk sekitar kita. Kalimat ini merasuk ke dalam otak Saya, tercerna menjadi sebuah asa baru.

Selama bersekolah, Saya cukup puas menduduki peringkat 3 atau lebih rendah. Sesekali saja ada di peringkat pertama. Hampir tidak ada yang terlalu istimewa dari Saya, karena selalu ada yang lebih baik dari Saya dalam segala hal. Namun dengan kalimat di atas Saya lantas berpikir, tentu ada kesempatan yang masih terbuka lebar bagi Saya.. memberdayakan segala potensi yang Saya miliki untuk hal kebaikan. Akhirnya Saya menjadi lebih bersyukur lagi ditakdirkan berjodoh dengan suami Saya, Saya ‘merasa’ istimewa dan siap berkontribusi.. minimal untuk orang terdekat Saya. Insyaallah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s